EKONOMI & POLITIK MEDIA

 MEDIA DALAM PERSPEKTIF EKONOMI & POLITIK

image by : jiwa santri

    Kata media berasal dari bahasa Latin yang berarti sesuatu di antara. Selain itu juga bermakna sesuatu yang muncul secara publik, milik publik, atau mediasi dan karenanya merujuk pada sebuah ruang publik. Begitulah esensi dari media tidak bisa dipisahkan dari persoalan antara ranah publik dan privat. Media memediasi kedua ranah itu untuk mencari kemungkinan (atau ketidak-mungkinan) terhadap hidup bersama. Dalam hal ini, apa yang membentuk media terjabarkan  cukup luas mulai dari ruang fisik seperti lapangan, alun-alun, teater, dan tempat-tempat pertemuan, hingga non- fisik seperti surat kabar, radio, televisi, internet, dan ruang untuk interaksi sosial. Tujuan adanya media adalah untuk menyediakan sebuah ruang di mana publik dapat berinteraksi dan terlibat secara leluasa terkait hal-hal yang berkenaan dengan kepentingan publik.

    Industri media telah tumbuh dengan kecepatan yang luar biasa, tetapi tidak semuanya dapat bertahan. Dalam industri media, kelangsungan hidup ditentukan oleh konteks ekonomi politik. Menurut Doyle (2002) mengatakan perkembangan media massa yang liberal dan global mencerminkan dominannya dunia struktur politik, ekonomi, dan pemilik modal. Dalam era globalisasi maklumat yang melanda negara-negara di dunia termasuk Indonesia muncul kecenderungan organisasi media komunikasi yang lebih mementingkan aspek komersial.


Kedudukan Ekonomi Media dalam industri media massa antara lain:

1. Kedudukan ekonomi media melaksanakan optimasi dalam bisnis media dalam industri media massa serta berupaya mencari keuntungan buat senantiasa melindungi keberlanjutan industri media massa.

2. Kedudukan ekonomi media ialah menarik konsumen ataupun pengiklan, disini industri media massa memakai sumber- sumber yang terbatas buat penuhi kebutuhan serta bermacam keingan khalayak.

3. Selaku pemuas kebutuhan para khalayak serta pemasang iklan terhadap kebutuhan serta data apa yang mereka terima baik itu hiburan, kabar ataupun pembelajaran.

4. Ekonomi media memudahkan serta menolong industri media dalam perihal mencari orang- orang yang dapat diajak bergabung ke dalam industri industri media, ini disebabkan kedudukan ekonomi media menimbulkan lapangan pekerjaan di tengah warga.

5. Ekonomi media membuat industri media massa sanggup menguasai gimana struktur pasar pengaruhi bermacam industri media, gimana media tertentu membidik pasar tertentu, dan gimana regulasi pemerintah dan pertumbuhan teknologi pengaruhi sikap pasar di masa mendatang.

6. Selaku pertimbangan seberapa banyak benda ataupun jasa yang dibuat oleh industri media


    Teori ekonomi politik media fokus pada media massa dan budaya massa, dimana keduanya dikaitkan dengan berbagai permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat. Teori ini mengindentifikasi berbagai kendala atau hambatan yang dilakukan para praktisi media yang membatasi kemampuan mereka untuk menantang kekuasaaan yang sedang mapan. Dimana penguasa membatasi produksi konten yang dilakukan pekerja media, sehingga konten media yang diproduksi tersebut kian memperkuat status quo. Sehingga menghambat berbagai upaya untuk menghasilkan perubahan sosial yang konstruktif. Upaya penghambatan para pemilik pemodal, bertolak belakang dengan teoritikus ekonomi politik ini, yang justru aktif bekerja demi perubahan sosial.



Sumber :

Hendra Alfani, “PERSPEKTIF KRITIS EKONOMI POLITIK MEDIA Konglomerasi, Regulasi Dan Ideologi,” Avant Garde 2, no. 2 (December 5, 2014), accessed December 18, 2021, https://journal.budiluhur.ac.id/index.php/avantgarde/article/view/34.

https://www.cikarangindustrial.com/index.php/opini/313-ekonomi-media-dalam-industri-media-massa

Desliana Dwita, “Televisi dan Kepentingan Pemilik Modal dalam Perspektif Teori Ekonomi Politik Media,” Jurnal Ipteks Terapan 8, no. 4 (2014): 252–261.

Komentar